Sabtu, 15 September 2012

NADA-NADA IMPIAN

Nada-nada impian
            Impian bukan Cuma untuk orang-orang yang berbakat, impian adalah untuk orang yang memiliki semangat tinggi untuk menggapainya. Impian adalah hak setiap manusia yang ingin menjadi lebih baik lagi.
            Namaku Marsha, anak kedua dari dua bersaudara. Dari dulu aku selalu mengikuti apa yang dilakukan Rezta, kakakku. Sampai dulu aku ingin masuk sekolah otomotif namun kedua orang tuaku melrangnya dan memasukan aku di sekolah akuntansi Negeri dan cukup elit.
            Kakaku Rezta mempunyai pacar yang kurang lebih usia hubungnnya mereka sekarng adalah dua tahun. Nama pacarnya adalah Miya. Dia dulu juga kakak kelasku, namun sekarang dia telah Lulus dan berkerja diluar kota.
            “hei… kamu mau kuliah apa kerja?” Tanya kakakku
            “kuliah,kak..” jawabku
            “dimana? Tanyanya singkat
            “di UNNES,ka… eh belum tau juga denk.. hahaha” jawabku.
            “hahhaa…. Mimpi” ledek kakakku.
            Aku punya banayak teman diantara mereka ada yang aku anggap sebgi saudara. Umurnya satu tahun lebih tua. Aku biasa memanggilnya Kak’Andi. Sekarang dia bekerja sebgi karywan di perusahan asing, walau sebenrnya impiannya dlah menjadi seorang musisi namun sepertinya dia sudah nyaman dipekerjaanya itu. Pada suatu ketika kak Andi pernah mengatakan sesuatu kepadaku.
            kelak jika kamu mendapatkan sesuatu hal yang tidak sesuai bidangmu, berarti TUHAN telah memberikan kita kesempatan untuk menambah ilmu”
Kata-kata itu selalu ak ingat, walau sebenrnya aku hanya ingin mendapatkan sesuatu hal sesuai bidang keahlianku.
            Disekolah aku mempunyai sebuah Band yang namanya adalah FLYMARS, band aku ini lumayan Eksis dikalangan anak-anak sekolah. Personiel FLYMARS semunya adalah cewek. Putri as. Vocalis, walau cita-cita sebenrnya adalah sebagi Guru, tapi berkat suara indahnya Dia kami angkat sebagi vocalis. Fiya as. Gitaris, dia jug punya bakat lain yaitu dance. Orang tuanya memasukanya kesanggar tari. Wina as. Drummer, walau dia tomboy tapi dia jago masak.
            Seusai upacara senin pagi ada Rara Wakil Ketua Osis menghampiriku.
            “Sha.., dipanggil Pak. Arief diruangnnya”ucap Rara
            “sekarang?” tanayaku.
            “iya, ada yang pentingg katanya” jawab Rara.
            “Makasih yah..”sahutku.
            Aku pun bergegas ke ruang Guru. Dalam perjalanan aku meliat sosok asing ditengaah lapangan basket, namun sepertinya bukan anak sekolah sini. Tapi ya sudahlah aku percepat langkahku agar lebih cepat sampai di ruang Pak. Arief. Setiba didepan pinta tak lupa aku mengetuk pintunya.
            TOK.. TOK.. TOK..
            Silahkan masuk” suara Pak. Arief dari dalam.
            “Ada apa Bapak memanggil saya?”tanyaku.

Tanpa basa-basi Pak. Arief menjawab pertnyaanku.
“begini, Sha.. bulan depan ada lomba Band antar sekolah. Bapak ingin Band kamu yang mewakilinya”ujar Pak. Arief penuh harap.
“apa Pak? Bulan depan? Tapi kan bulan depan sedah mulai persiapan Ujian Nasional, Pak?” ucapku.
“iya, mangkanya Bapak pnggil kamu kesini, kalau kalian menyanggupi nanti Bapak daftarkan, tapi kalau kalian tidak bisa biar adik kelas kalian saja yang mewakilinya”Tanya Pak. Arief.
“iya sudah nanti saya diskusikan dulu sama yang lain. Terimaksih atas tawarnya”ucapku.
Setelah keluar dari ruang Guru, aku bergegas ke toilet. Karena aku tergesah-gesah dikoridor aku hampir saja menabrak orang yang ternyata orang itu adalah kak’Surya teman kak’Rezta, orang yang tadi aku liat di lapangan basket.
“Marsha?” sapa kak’Surya yang pada awalnya aku belum tau kalau dia adalah kak’Surya.
“iya. Siapa yah? Kok bisa kenal sama aku? Tanyaku bertubi-tubi
“ciaaa… sombong amat sampai nggak ngenalin kakak? Makin cantik aja nih? Ucap kak Surya sambil bergurau.
“kakak siapa yah? Tanyaku keheranan.
“ini kak’Surya teman Abangmu Rezta” jawabnya. Jawabannya itu memecah segala rasa heranku terhadapnya.
“ohh… kak’Surya, kakak sekarang dimana kok nggak pernah main kerumah lagi? Tanyaku.
“iya nanti kapan-kapan kakak main deh, tapi sudah dulu yh.. kakak ada urusan lain.” Ujarnya sambil meninggalkan aku.
Aku pun lanjut ke toilet.

Sehabis pulang sekolah Aku, Putri, Fiya, dan Wina menuju ketempat latihan yang ternyata di dalam sudah ada Pak. Arief dan “the roulade” band junior kita. Akhirnya FLYMARS memutukan untuk tidak mengikuti lomba itu. Dan akhirny “the roulade” yang mewakili sekolah kita. Walau sedikit kecewa karena tidak bisa ikut ajang itu, namun sebuah impian besar telah menunggu. Kelulusan yang selama tiga tahun telah dinanti tidak lama lagi akan menjadi nyata.
Dilain cerita ada Saptana siswa sekolah sebelah yang sedang PDKT sama Vivi. Walau sebenarnya aku sudah akrab sama dia namun sekalipun aku belum pernah melihat rupanya. Banyak yang bilang dia itu cakep, berkarisma, dan baik. Namun selama ini aku berhubungan dengan dia sekedar via sms dan telefon. tanpa aku sadari ternyata ada panggilan masuk maklum HP selalu ku silent. Lalu aku coba telefon balik.
Kring.. kring... kring..
“kamu dimana? Aku ada didepan sekolah kamu nih. Keluar donk” perintah Saptana.
“iya ini juga mau keluar. Tumben banget kesini ada apa? Mau jemput Vivi? Tanyaku usil.
“nggak kok…”jawabnya singkat.
Sesampai aku didepan sekolah, aku meliat sosok cowok tinggi lumaya okelah [haahahahaa]. Lalu aku samperin dia dan kumatikan HPku. Lalu aku sodorkan tanaganku untuk berjabaatan tangan dengannya.
“hey… senang berjumpa denganku” gurauku.
“nggak usah berbasa-basi, ayo naik keburu bubar nih”ajaknya.
Sebenarnya aku tidak tau akan dibawa kemana. Aku bingung sendiri. Aku juga ada rasa cemas, karena ada gossip kalau dia lagi PDKT sama Vivi. Yang aku takutkan Vivi memergoki aku jalan berdua dengan gebetannya itu. Walau hati cemas tapi aku berusaha tengan dihadapanya. Sesampai disebuah Mall, Saptana berhenti dan mulai memarkirkan sepeda motornya itu.
“hey… ngapain kita kesini?” tanyaku.
“udah nanti kamu juga tau sendiri, apa kamu pura-pura gak tau?”ejeknya.
“serius deh, aku gak tau apa-apa?” jawabku.
Lalu Saptana menarikku dan membawaku kelantai paling atas Mall tersebut. Tanpa aku sadari ternyata itu adalah lomba band antar sekolah yang bulan lalu ditawarin sekolah.
“eh.. kok kamu tau ada acara ini disini?” tanyaku heran.
“ya tau lah, aku kan ikut lomba ini. Nih kenalin teman-temanku” jawabnya sambil memperkenalkan teman-temanya itu.
Aku pun berkenalan dengan mereka satu-persatu. Dari situ aku kenal yang namanya Radhyn, cowok super kece yang punya hobby menggambar. Jadi nggak heran kalau sekarang dia sekolah dibidang arsitektur.
“ayo.. naik” ajak Radhyn ke Sapta karena sudah giliran mereka yang tampil.
“aku naik dulu yah, nikmati aja penampilan kita” ujar Sapta padaku.
Akupun mencari tempat yang nyaman agar bisa menikmati penampilan mereka. Ditengah-tengah aksi panggungnya tiba-tiba Fiya dan Wina melihatku dan menghampiriku.
“Sha.. kok sendirian?” Tanya Fiya
“eh… Fiya, Wina.. kalian datang juga yah? Tanyaku balik.
“eitzz… itu Sapta kan?” kata Fiya sambil menunjuk Sapta yang berada diatas panggung sambil memaikan gitarnyna.
“kamu kenal dia juga” tanyaku
“iya. Dia kan teman main masa kecil saya. Sekarang beda banget tambah ganteng dan tambah tinggi aja” ujarnya panjang lebar sambil mengenang masa kecinya bersama sapta.
“oh jadi dia teman kecil kamu toh? Tadi aku kesini bareng sama dia” ceritku singgakat.
“dia bukanya pacarnya Vivi yah? Kok bisa sama kamu, Sha..? Tanya Wina.
Belum sempat aku menjawab ternyata penampilan mereka selesai. Penonton memberi tepuk tangan, tanpa terkecuali Aku, Fiya, dan Wina. Dalam hatiku sempat berfikir ternyata cowok semisterius Saptana bisa juga main musik. [ck.ck..ck..]. tanpa lama-lama diatas panggung akhirnya Sapta turun dan langsung menghampiri kita bertiga. Dari jarak kurang satu meter dia mengangkat tangannya untuk “haifive”.
“keren tuh tadi penampilannya” sanjung Fiya.
“iya tuh. Sepektakuler banget. Andai saja kita bisa ikutan lomba ini, pasti lebih seru” ujar Wina.
“terimakasih atas pujiannya. Btw emang kenapa sih kalian nggak ikut lomba ini? Kan hadiahnya lumayan bisa buat gitar baru? Gurau saptana.
“gak ada waktu buat latiah, apalagi si Putri lagi sibuk-sibuknya belajar buat dapatin beasiswa itu. Terus lusa kita sudah mulai persiapan Ujian Nasional pula” terangku panjang lebar.
“ya sudah jangan pantang semangat gitu donk” tegas saptana.
Ditengah-tengah obrolan kita tiba-tiba Radhyn menghampiri Sapta. Dengan muka yang tegang dan agak gelisah dia minta pamit untuk duluan pulang Karena terjadi musibah Ayah dari Radhyn mengalami kecelakaan dan dibawa kerumah sakit.
“oh.. ya udah. Hati-hati dijalah yah, bro..”. pesan Sapta kepada Radhyn.
“eh.. kok kamu gak menemani dia” tanyaku
“iya nanti habis pengumuman dan ngantar kamu kerumah aku langsung  kerumah sakit. Karena jika tidak ada perwakilan nanti bisa gugur” tegasnya
Tanpa dikira ternyata band perwakilan sekolahku telah selesai menampilkan satu buah lagu. Dan sekarang tinggal pengumuman siapakah juaranya. Dan sesuai yang sudah kita prediksi kalau bandnya Sapta lah yang menjadi juaranya. Dan juara kedua direbut oleh “the roulade”. Dan juara tiga direbut oleh musuh bebuyutan sekolahku.
Akhirnya acara ini pun kelar. Fiya dan Wina bbergabung bersama anakk-anak “the roulade” sedangkan aku pulang bersama Sapta. Setelah sampai dirumah kira-kira pukul 17.00 WIB, Sapta langsung bergegas ke Rumah Sakit untuk mengetahui kondisi Ayahnya Radhyn.
Sesampai di Rumah Sakit Sapta langsung menuju kamar yang sudah dikasih tahu Radhyn lewat SMS. Sesampai di depan kamar Sapta melihat Radhyn dan keluarganya sedang cemas menunggu hasil operasi. Karena kecelakaan yang dialami Ayahnya Radhyn cukup parah, hingga akhirnya harus secepatnya ditindak lanjuti dengan jalan operasi.
“Dhyn, nih…” ujar Sapta sambil memberikan piala & sejumlah uang yang didapatkan dari hasil lomba tadi.
“nggak usah. Inikan punya sekolah” ucap Radhyn menolaknya.
“nggak apa-apa kok, tadi kepala sekolah sudah bilang kalau hadiahnya untuk kita semua. Ini bisa untuk tambahan biaya Ayah kamu.” Tawa Sapta.
“tapi…” ucap Radhyn enggann menerima itu semuua
“nggak usah tapi-tapian, ini terima saja.” Paksa Sapta.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya operasi tersebut selesai. Dan keluarga boleh menemui pasien. Namun kondisinya belum sadar. Sang Ayah pun harus dirawat Rumah Sakit.
Hari demi hari akhirnya berlalu, berbagai usaha telah kita lakukan. Berbagai penggorbanan baik waktu dan lainya telah kita korbankan untuk mengapai cita-cita kita. Selanjutnya tinggal kita tungu bagaimana hasilnya, hasil dari Ujian Nasional.
“hei..!! ikut yuk.” Ajak Saptana.
“kemana?” tanyaku.
Tanpa basa-basi Sapta langsung menyuruhku untuk naik motornya. Dalam perjalanan taka da satu katapun keluar dari mulutnya. Motornya  ia pacu secepat mungkin. Hingga akhirnya sampai disebuah Rumah Sakit. Disitu aku melihat Radhyn bersama keluarganya, dan mereka terlihat sedih.
“hei.. ada apa ini? Kok..?’ tanyaku kepada Saptana.
“Ayahnya Radhyn meninggal dunia” jawab Sapta dengan nada sumbang.
“innalillahi…” ucapku  kaget.
Kerena aku kira Ayahnya Radhyn sudah sehat. Tapi malah ternyata beliau meninggal di rumah sakit.
Aku segera menuju ke rombongan Radhyn dan keluarganya. Aku menyatakan turut berduka kepda Radhyn. Aku mulai terbuai dalam isak tangis, walau sebenarnya aku juga tidak mengenal mereka.
“Dhyn.. yang tabah yah, semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa Ayah kamu, dan menerima semua amal baik perbuatannya.” Ucapku kepada Radhyn.
“iyah.. makasih yah, Sha”. tanggapnya
“aku juga yah.. turut berduka cita” sambung Sapta
“iya, aku juga terimakasih banget sama kamu”. Ujar Radhyn.
Disitu aku baru tahu kalau yang membantu semua biaya Rumah Sakit Ayahny adalah Sapta. Saat itu juga aku melihat sisi lain dari seorang Saptana. Dulu aku sekedar Saptana sebagai cowok playboy, yang suka ‘caper’ sana sini, tapi ternyata Dia solid banget sama temannya. Aku jadi merasa bersalaah selama ini memandang dia sebelah mata.
Ini adalah hari dimana kak’Rezta dan Miya pertama kali jadian. Ini adalah peringatan dua tahun hubunggan mereka. Mereka pun mengadakan acara kecil di tempat sepesial mereka.
“sayang… terimakasih karena selama ini telah menemani aku. Telah mengisi hari-hariku, telah memberi warna baru dalam kehidupanku. “. Rayu kak’Rezta.
“iya sayang. Terimakasih juga karena selama ini telah mendampingi aku” ucap Miya.
Hubuungan mereka berdua emang sudah serius. Bahkan rencananyadua tahun lagi akan menikah, namun mereka berdua menunggu kuliah mereka selesai dulu. Keluarga juga sudah mengetahui rencana tersebut.
Hari yang aku tunggu akhirnya tiba. Pengumuman kelulusan SMA/SMK dan sederajat akan diumumkan siang nanti.
“eh Tegang amat” ledek kak’Andi
“apaan sih,kak?” jawabku.
Hari ini aku lumayan tegang karena menanti hasilnya. Aku tidak berharap menjadi juara umum. Untuk bisa Lulus saja aku sudah bahagia.
Setelah ja 14.00 WIB aku datang ke sekolah, disana sudah ada Putri, Fiya dan Wina. Sebenarnya aku  lumayan sedih karena sehabis ini kita akan berpisah. Putri yang akan keluar kota untuk lanjut  kuliah dengan S1 Pendidikan Matematika. Wina yang akan terbang ke luar negeri untuk bekerja. Dan Fiya yang memutuskan untuk bergabung ke grub tari professional. Sedangkan aku, aku masih bingung akan pergi kemana.
“eh.. aku sedih deh”. Ucapku.
“sedih kenapa? Ini kan yang selama ini kamu nantikan” ujar putri.
“iya Sha..” sambung Fiya.
“iya sih, tapi mulai saat ini kita nggak akan bisa sering-sering ketemu.  Putri mau lanjut kuliah diluar kota, Wina, kamu kan mau keluar negeri, sedangkan Fiya, kamu ]pasti bakal sibuk banget nanti’ kataku sedikit meneteskan air mata.
“tapi, nanti kita pasti akan berkumpul lagi. Dalam keadaan yang lebih baik lagi. Kita kan berpisah untuk menggapi cita-cita kita masing-masing. Walau kita berjauhan namun kita akan tetap berjuang bersama-sama”. Kata Putri sambil memelukku.
Perjuangan yang sebenarnya baru akan dimulai. Rintangan pun akan semakin berat, kita perlu usaha ekstra untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Walau ada badai namun kita harus tetap semangat demi impian.
Akhirnya aku memutuskan untuk lanjut kuliah dibidang Teknik Komputer di perguruan tinggi swasta di sini. Walau sebenarnya aku ingin ambil jurusan Musik di luar kota, namun aku tak sanggup untuk berpisah dengan orang-orang yang aku sayangi.
Di kampus pada saat OSPEK.
“kak’Surya..?” tanyaku bengong. Karena sebenarnya aku tidak tau sama sekali kalu dia kuliah ditempatku.
“Marsha? Kamu kuliah disini? Kakak kira kamu akan ambil jurusan musik? Tanya kak’suurya bertubi-tubi
“iya nih,kak. Pengin nambah ilmu aja. Lagian kalau disini juga masih bisa main music kan? Terangku.
Hari pertama masuk kuliah membuatku merasa bosan. Bukan karena sekedar teman-temanku masih asing namun otakku masih memikirka sahabat-sahabatku, Sapta serta Radhyn. Terakhir aku dengar Sapta akan sekolah management karena ia akan melanjutkan restoran orangtuanya. Sedangkan Radhyn ia memilih untuk berkerja  karena sekarang dia menjadi tulang punggung keluarganya sejak Ayahnya meninggal.
Dua bulan berlalu akhirnya aku dapat kabar dari Wina, dia cerita kalau tempat ia bekerja lagi ada PHK besar-besaran. Hamper setengah pegawainya kena PHK termasik dirinya. Akhirnya Wina balik keindonesia. Dan aku merekomendasikan dia untuk bekerja di restonya Orantua Sapta.
Setahun kemudian, diacara Wisudahnya kak Surya. Dari dulu aku sudah tahu kalau Surya itu diatas rata-rata, jadi aku nggak heran kalau dia jadi Lukusan terbaik tahun ini. Didalam sambutan kak’Surya dia menyebut Namaku sebagai orang yang selama ini memotivasinya. Padahal dalam kenyataanya aku sama sekali tidak berbuat apa-apa.
Namun karena sambutannya itu, beberapa minggu aku sepat dijutekin oleh cewek-cewek seisi kampus. Bahkan ada senior yang hamper melabrakku, tapi untung saja ada Radhyn yang melihatnya dan menolongku. Yups, sudah dua minggu Radhyn sekolah disini dan tentu saja dia mengambil bidang Arsitektur. Dan dia sekarang jadi juniorku [ ha.ha..ha..]
“Dhyn, thanks yah..” ucapku.
“u’re welcome. Ada apa sih, kok sadis banget? Tanya Radhyn heran.
“biasalah.. masalah cowok” jawabku singkat.
Beberapa hari setelahh itu, kak’Surya menjemputku sehabis pulang kuliah. Dia mengajakku makan, aku sebenar masih heran. Sesampainya di tempat makan aku tanyakan semuanya yang selama ini ada diotakku. Namun aku belum sempat bertanya dia sudah mengeluarkan pernyataan yang memuatku kaget.
“Sha, aku kan sudah mengenalmu lama. Dari kecil sampai sekarang kamu segede ini. Aku pengin kita bisa lebih dekat. Mau nggak kamu jadi pacar aku?”
“apa,kak?” tanyaku heran sambil melotot
Setelah itu aku hanya terdiam. Ditengan diamku ada sosok yang tak asing lagi dimataku.
“Marsha..” sapa Saptana.
“Sapta..” ucapku sambil menyodorkan tangan.
Tak lupa aku kenalkan Sapta ke kak’Surya. Akhirnya bertiga ngobrol panjang lebar, hingga akhirnya aku tahu kalau tempat ini adalah milik orangtua Sapta. Tanpa terasa makanan dan minuman di meja sudah habis. Akhirnya aku putuskan untuk pulang.
“thanks yah.. buat hidangannya. Nanti pasti aku sering-sering mampir kesini” kataku pada Saptana.
“siip” kata Saptana.
Dalam perjalan pulang aku menjawab pertanyaan kak’Surya yang tadi sempat tertunda karena Sapta. Dengan tegas aku menolak kak’Surya. Karena untuk sekarang aku masih fokus sama kuliah ku. Dengan sifat dewasanya kak’Surya akhirnya dia bisa menerima.
Mungkin karena aku sudah nyaman denang suasana kuliah hingga akhirnya pada hari ini aku resmi di wisuda. Hari berjalan begitu cepat, untuk kedua kalinya aku di wisuda. Namun untuk yang ini terasa begitu istimewa, karena semua orang yang pada hadir. Dari orang tua, kak’Rezta dan Miya yan sekarang sudah menikah dan mempunyai seorang anak, ada Fiya, Wina, Putri yang sudah diwisuda minggu lagu, ada Sapta, Radhyn dan kak’Surya juga datang.
“selamat yah..” ucap Wina, Fiya, Putri
“selamat ya, de..” ujar kak’Rezta dan Miya.
Tak lama kemudian datanglah Andi, dia baru saja pulang dari Jepang. Katanya sih ada kerjaan disana. Dari kejauhan dia melambaikan tangan. Sesampai didepanku dia langsung memelukku. Dan memberiku ucapan selamat.
Sekarang aku menjadi karyawan tetap di disebuah televisi swasta,berkat gelar S1 Teknik komputerku, sedangkan Putri sekarang diangkat sebagai guru SD, dan Fiya dia sekarang menjadi membuka sanggar tari. Wina sekarang menjadi Chef di tempatnya Saptana. kalau Saptana, ia sendiri melanjutkan resto milik keluarganya. Dan Radhyn, walau dia masih kuliah namun sudah ada perusahaan dalam negeri yang tiap bulan membutuhkan jasanya.
Berawal dari musik akhirnya kita bisa menggapai semua impian-impian kita. Impian bukan Cuma untuk di khayalkan, namun harus diwujudkan. Walaupun banyak rintangan namun semangat akan membuat kita lebih gigih mengejar impian.
Kadang apa yang kita impikan tak semuanaya dapat terwujud. Ada kalanya walau kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh namun impian itu tetap menjauh dari kita. Dan saat kita jatuh karena impian itu kita harus tetap memperjuangkan impian kita. Dan endingnya kita harus bisa menerima jika impian itu tak bisa kita wujudkan. Dan jangan merasa menyesal.