Nada-nada
impian
Impian bukan Cuma untuk orang-orang yang berbakat, impian
adalah untuk orang yang memiliki semangat tinggi untuk menggapainya. Impian
adalah hak setiap manusia yang ingin menjadi lebih baik lagi.
Namaku Marsha, anak kedua dari dua bersaudara. Dari dulu
aku selalu mengikuti apa yang dilakukan Rezta, kakakku. Sampai dulu aku ingin
masuk sekolah otomotif namun kedua orang tuaku melrangnya dan memasukan aku di
sekolah akuntansi Negeri dan cukup elit.
Kakaku Rezta mempunyai pacar yang kurang lebih usia
hubungnnya mereka sekarng adalah dua tahun. Nama pacarnya adalah Miya. Dia dulu
juga kakak kelasku, namun sekarang dia telah Lulus dan berkerja diluar kota.
“hei… kamu mau kuliah apa kerja?” Tanya kakakku
“kuliah,kak..” jawabku
“dimana? Tanyanya singkat
“di UNNES,ka… eh belum tau juga denk.. hahaha” jawabku.
“hahhaa…. Mimpi” ledek kakakku.
Aku punya banayak teman diantara mereka ada yang aku
anggap sebgi saudara. Umurnya satu tahun lebih tua. Aku biasa memanggilnya
Kak’Andi. Sekarang dia bekerja sebgi karywan di perusahan asing, walau
sebenrnya impiannya dlah menjadi seorang musisi namun sepertinya dia sudah
nyaman dipekerjaanya itu. Pada suatu ketika kak Andi pernah mengatakan sesuatu
kepadaku.
“kelak jika kamu
mendapatkan sesuatu hal yang tidak sesuai bidangmu, berarti TUHAN telah
memberikan kita kesempatan untuk menambah ilmu”
Kata-kata itu selalu ak
ingat, walau sebenrnya aku hanya ingin mendapatkan sesuatu hal sesuai bidang
keahlianku.
Disekolah aku mempunyai sebuah Band yang namanya adalah
FLYMARS, band aku ini lumayan Eksis dikalangan anak-anak sekolah. Personiel
FLYMARS semunya adalah cewek. Putri
as. Vocalis, walau cita-cita
sebenrnya adalah sebagi Guru, tapi berkat suara indahnya Dia kami angkat sebagi
vocalis. Fiya as. Gitaris, dia jug punya bakat lain yaitu
dance. Orang tuanya memasukanya kesanggar tari. Wina as. Drummer, walau
dia tomboy tapi dia jago masak.
Seusai upacara senin pagi ada Rara Wakil Ketua Osis
menghampiriku.
“Sha.., dipanggil Pak. Arief diruangnnya”ucap Rara
“sekarang?” tanayaku.
“iya, ada yang pentingg katanya” jawab Rara.
“Makasih yah..”sahutku.
Aku pun bergegas ke ruang Guru. Dalam perjalanan aku
meliat sosok asing ditengaah lapangan basket, namun sepertinya bukan anak
sekolah sini. Tapi ya sudahlah aku percepat langkahku agar lebih cepat sampai
di ruang Pak. Arief. Setiba didepan pinta tak lupa aku mengetuk pintunya.
TOK.. TOK.. TOK..
“Silahkan masuk” suara Pak. Arief
dari dalam.
“Ada apa Bapak memanggil saya?”tanyaku.
Tanpa basa-basi Pak.
Arief menjawab pertnyaanku.
“begini,
Sha.. bulan depan ada lomba Band antar sekolah. Bapak ingin Band kamu yang
mewakilinya”ujar Pak. Arief penuh harap.
“apa
Pak? Bulan depan? Tapi kan bulan depan sedah mulai persiapan Ujian Nasional,
Pak?” ucapku.
“iya,
mangkanya Bapak pnggil kamu kesini, kalau kalian menyanggupi nanti Bapak
daftarkan, tapi kalau kalian tidak bisa biar adik kelas kalian saja yang mewakilinya”Tanya
Pak. Arief.
“iya
sudah nanti saya diskusikan dulu sama yang lain. Terimaksih atas
tawarnya”ucapku.
Setelah
keluar dari ruang Guru, aku bergegas ke toilet. Karena aku tergesah-gesah
dikoridor aku hampir saja menabrak orang yang ternyata orang itu adalah
kak’Surya teman kak’Rezta, orang yang tadi aku liat di lapangan basket.
“Marsha?”
sapa kak’Surya yang pada awalnya aku belum tau kalau dia adalah kak’Surya.
“iya.
Siapa yah? Kok bisa kenal sama aku? Tanyaku bertubi-tubi
“ciaaa…
sombong amat sampai nggak ngenalin kakak? Makin cantik aja nih? Ucap kak Surya
sambil bergurau.
“kakak
siapa yah? Tanyaku keheranan.
“ini
kak’Surya teman Abangmu Rezta” jawabnya. Jawabannya itu memecah segala rasa
heranku terhadapnya.
“ohh…
kak’Surya, kakak sekarang dimana kok nggak pernah main kerumah lagi? Tanyaku.
“iya
nanti kapan-kapan kakak main deh, tapi sudah dulu yh.. kakak ada urusan lain.” Ujarnya
sambil meninggalkan aku.
Aku
pun lanjut ke toilet.
Sehabis
pulang sekolah Aku, Putri, Fiya, dan Wina menuju ketempat latihan yang ternyata
di dalam sudah ada Pak. Arief dan “the roulade” band junior kita. Akhirnya
FLYMARS memutukan untuk tidak mengikuti lomba itu. Dan akhirny “the roulade”
yang mewakili sekolah kita. Walau sedikit kecewa karena tidak bisa ikut ajang
itu, namun sebuah impian besar telah menunggu. Kelulusan yang selama tiga tahun
telah dinanti tidak lama lagi akan menjadi nyata.
Dilain
cerita ada Saptana siswa sekolah sebelah yang sedang PDKT sama Vivi. Walau
sebenarnya aku sudah akrab sama dia namun sekalipun aku belum pernah melihat
rupanya. Banyak yang bilang dia itu cakep, berkarisma, dan baik. Namun selama
ini aku berhubungan dengan dia sekedar via sms dan telefon. tanpa aku sadari
ternyata ada panggilan masuk maklum HP selalu ku silent. Lalu aku coba telefon
balik.
Kring..
kring... kring..
“kamu
dimana? Aku ada didepan sekolah kamu nih. Keluar donk” perintah Saptana.
“iya
ini juga mau keluar. Tumben banget kesini ada apa? Mau jemput Vivi? Tanyaku
usil.
“nggak
kok…”jawabnya singkat.
Sesampai
aku didepan sekolah, aku meliat sosok cowok tinggi lumaya okelah [haahahahaa].
Lalu aku samperin dia dan kumatikan HPku. Lalu aku sodorkan tanaganku untuk
berjabaatan tangan dengannya.
“hey…
senang berjumpa denganku” gurauku.
“nggak
usah berbasa-basi, ayo naik keburu bubar nih”ajaknya.
Sebenarnya
aku tidak tau akan dibawa kemana. Aku bingung sendiri. Aku juga ada rasa cemas,
karena ada gossip kalau dia lagi PDKT sama Vivi. Yang aku takutkan Vivi
memergoki aku jalan berdua dengan gebetannya itu. Walau hati cemas tapi aku
berusaha tengan dihadapanya. Sesampai disebuah Mall, Saptana berhenti dan mulai
memarkirkan sepeda motornya itu.
“hey…
ngapain kita kesini?” tanyaku.
“udah
nanti kamu juga tau sendiri, apa kamu pura-pura gak tau?”ejeknya.
“serius
deh, aku gak tau apa-apa?” jawabku.
Lalu
Saptana menarikku dan membawaku kelantai paling atas Mall tersebut. Tanpa aku
sadari ternyata itu adalah lomba band antar sekolah yang bulan lalu ditawarin
sekolah.
“eh..
kok kamu tau ada acara ini disini?” tanyaku heran.
“ya
tau lah, aku kan ikut lomba ini. Nih kenalin teman-temanku” jawabnya sambil
memperkenalkan teman-temanya itu.
Aku
pun berkenalan dengan mereka satu-persatu. Dari situ aku kenal yang namanya
Radhyn, cowok super kece yang punya hobby menggambar. Jadi nggak heran kalau
sekarang dia sekolah dibidang arsitektur.
“ayo..
naik” ajak Radhyn ke Sapta karena sudah giliran mereka yang tampil.
“aku
naik dulu yah, nikmati aja penampilan kita” ujar Sapta padaku.
Akupun
mencari tempat yang nyaman agar bisa menikmati penampilan mereka.
Ditengah-tengah aksi panggungnya tiba-tiba Fiya dan Wina melihatku dan
menghampiriku.
“Sha..
kok sendirian?” Tanya Fiya
“eh…
Fiya, Wina.. kalian datang juga yah? Tanyaku balik.
“eitzz…
itu Sapta kan?” kata Fiya sambil menunjuk Sapta yang berada diatas panggung
sambil memaikan gitarnyna.
“kamu
kenal dia juga” tanyaku
“iya.
Dia kan teman main masa kecil saya. Sekarang beda banget tambah ganteng dan
tambah tinggi aja” ujarnya panjang lebar sambil mengenang masa kecinya bersama
sapta.
“oh
jadi dia teman kecil kamu toh? Tadi aku kesini bareng sama dia” ceritku
singgakat.
“dia
bukanya pacarnya Vivi yah? Kok bisa sama kamu, Sha..? Tanya Wina.
Belum
sempat aku menjawab ternyata penampilan mereka selesai. Penonton memberi tepuk
tangan, tanpa terkecuali Aku, Fiya, dan Wina. Dalam hatiku sempat berfikir
ternyata cowok semisterius Saptana bisa juga main musik. [ck.ck..ck..]. tanpa
lama-lama diatas panggung akhirnya Sapta turun dan langsung menghampiri kita
bertiga. Dari jarak kurang satu meter dia mengangkat tangannya untuk “haifive”.
“keren
tuh tadi penampilannya” sanjung Fiya.
“iya
tuh. Sepektakuler banget. Andai saja kita bisa ikutan lomba ini, pasti lebih
seru” ujar Wina.
“terimakasih
atas pujiannya. Btw emang kenapa sih kalian nggak ikut lomba ini? Kan hadiahnya
lumayan bisa buat gitar baru? Gurau saptana.
“gak
ada waktu buat latiah, apalagi si Putri lagi sibuk-sibuknya belajar buat
dapatin beasiswa itu. Terus lusa kita sudah mulai persiapan Ujian Nasional
pula” terangku panjang lebar.
“ya
sudah jangan pantang semangat gitu donk” tegas saptana.
Ditengah-tengah
obrolan kita tiba-tiba Radhyn menghampiri Sapta. Dengan muka yang tegang dan
agak gelisah dia minta pamit untuk duluan pulang Karena terjadi musibah Ayah
dari Radhyn mengalami kecelakaan dan dibawa kerumah sakit.
“oh..
ya udah. Hati-hati dijalah yah, bro..”. pesan Sapta kepada Radhyn.
“eh..
kok kamu gak menemani dia” tanyaku
“iya
nanti habis pengumuman dan ngantar kamu kerumah aku langsung kerumah sakit. Karena jika tidak ada
perwakilan nanti bisa gugur” tegasnya
Tanpa
dikira ternyata band perwakilan sekolahku telah selesai menampilkan satu buah
lagu. Dan sekarang tinggal pengumuman siapakah juaranya. Dan sesuai yang sudah
kita prediksi kalau bandnya Sapta lah yang menjadi juaranya. Dan juara kedua
direbut oleh “the roulade”. Dan juara tiga direbut oleh musuh bebuyutan
sekolahku.
Akhirnya
acara ini pun kelar. Fiya dan Wina bbergabung bersama anakk-anak “the roulade”
sedangkan aku pulang bersama Sapta. Setelah sampai dirumah kira-kira pukul
17.00 WIB, Sapta langsung bergegas ke Rumah Sakit untuk mengetahui kondisi
Ayahnya Radhyn.
Sesampai
di Rumah Sakit Sapta langsung menuju kamar yang sudah dikasih tahu Radhyn lewat
SMS. Sesampai di depan kamar Sapta melihat Radhyn dan keluarganya sedang cemas
menunggu hasil operasi. Karena kecelakaan yang dialami Ayahnya Radhyn cukup
parah, hingga akhirnya harus secepatnya ditindak lanjuti dengan jalan operasi.
“Dhyn,
nih…” ujar Sapta sambil memberikan piala & sejumlah uang yang didapatkan
dari hasil lomba tadi.
“nggak
usah. Inikan punya sekolah” ucap Radhyn menolaknya.
“nggak
apa-apa kok, tadi kepala sekolah sudah bilang kalau hadiahnya untuk kita semua.
Ini bisa untuk tambahan biaya Ayah kamu.” Tawa Sapta.
“tapi…”
ucap Radhyn enggann menerima itu semuua
“nggak
usah tapi-tapian, ini terima saja.” Paksa Sapta.
Setelah
menunggu beberapa lama akhirnya operasi tersebut selesai. Dan keluarga boleh
menemui pasien. Namun kondisinya belum sadar. Sang Ayah pun harus dirawat Rumah
Sakit.
Hari
demi hari akhirnya berlalu, berbagai usaha telah kita lakukan. Berbagai
penggorbanan baik waktu dan lainya telah kita korbankan untuk mengapai
cita-cita kita. Selanjutnya tinggal kita tungu bagaimana hasilnya, hasil dari
Ujian Nasional.
“hei..!!
ikut yuk.” Ajak Saptana.
“kemana?”
tanyaku.
Tanpa
basa-basi Sapta langsung menyuruhku untuk naik motornya. Dalam perjalanan taka
da satu katapun keluar dari mulutnya. Motornya
ia pacu secepat mungkin. Hingga akhirnya sampai disebuah Rumah Sakit. Disitu
aku melihat Radhyn bersama keluarganya, dan mereka terlihat sedih.
“hei..
ada apa ini? Kok..?’ tanyaku kepada Saptana.
“Ayahnya
Radhyn meninggal dunia” jawab Sapta dengan nada sumbang.
“innalillahi…”
ucapku kaget.
Kerena
aku kira Ayahnya Radhyn sudah sehat. Tapi malah ternyata beliau meninggal di
rumah sakit.
Aku
segera menuju ke rombongan Radhyn dan keluarganya. Aku menyatakan turut berduka
kepda Radhyn. Aku mulai terbuai dalam isak tangis, walau sebenarnya aku juga
tidak mengenal mereka.
“Dhyn..
yang tabah yah, semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa Ayah kamu, dan menerima
semua amal baik perbuatannya.” Ucapku kepada Radhyn.
“iyah..
makasih yah, Sha”. tanggapnya
“aku
juga yah.. turut berduka cita” sambung Sapta
“iya,
aku juga terimakasih banget sama kamu”. Ujar Radhyn.
Disitu
aku baru tahu kalau yang membantu semua biaya Rumah Sakit Ayahny adalah Sapta.
Saat itu juga aku melihat sisi lain dari seorang Saptana. Dulu aku sekedar
Saptana sebagai cowok playboy, yang suka ‘caper’ sana sini, tapi ternyata Dia
solid banget sama temannya. Aku jadi merasa bersalaah selama ini memandang dia
sebelah mata.
Ini
adalah hari dimana kak’Rezta dan Miya pertama kali jadian. Ini adalah
peringatan dua tahun hubunggan mereka. Mereka pun mengadakan acara kecil di
tempat sepesial mereka.
“sayang…
terimakasih karena selama ini telah menemani aku. Telah mengisi hari-hariku,
telah memberi warna baru dalam kehidupanku. “. Rayu kak’Rezta.
“iya
sayang. Terimakasih juga karena selama ini telah mendampingi aku” ucap Miya.
Hubuungan
mereka berdua emang sudah serius. Bahkan rencananyadua tahun lagi akan menikah,
namun mereka berdua menunggu kuliah mereka selesai dulu. Keluarga juga sudah
mengetahui rencana tersebut.
Hari
yang aku tunggu akhirnya tiba. Pengumuman kelulusan SMA/SMK dan sederajat akan
diumumkan siang nanti.
“eh
Tegang amat” ledek kak’Andi
“apaan
sih,kak?” jawabku.
Hari
ini aku lumayan tegang karena menanti hasilnya. Aku tidak berharap menjadi
juara umum. Untuk bisa Lulus saja aku sudah bahagia.
Setelah
ja 14.00 WIB aku datang ke sekolah, disana sudah ada Putri, Fiya dan Wina.
Sebenarnya aku lumayan sedih karena
sehabis ini kita akan berpisah. Putri yang akan keluar kota untuk lanjut kuliah dengan S1 Pendidikan Matematika. Wina
yang akan terbang ke luar negeri untuk bekerja. Dan Fiya yang memutuskan untuk
bergabung ke grub tari professional. Sedangkan aku, aku masih bingung akan
pergi kemana.
“eh..
aku sedih deh”. Ucapku.
“sedih
kenapa? Ini kan yang selama ini kamu nantikan” ujar putri.
“iya
Sha..” sambung Fiya.
“iya
sih, tapi mulai saat ini kita nggak akan bisa sering-sering ketemu. Putri mau lanjut kuliah diluar kota, Wina,
kamu kan mau keluar negeri, sedangkan Fiya, kamu ]pasti bakal sibuk banget
nanti’ kataku sedikit meneteskan air mata.
“tapi,
nanti kita pasti akan berkumpul lagi. Dalam keadaan yang lebih baik lagi. Kita
kan berpisah untuk menggapi cita-cita kita masing-masing. Walau kita berjauhan
namun kita akan tetap berjuang bersama-sama”. Kata Putri sambil memelukku.
Perjuangan
yang sebenarnya baru akan dimulai. Rintangan pun akan semakin berat, kita perlu
usaha ekstra untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Walau ada badai namun kita
harus tetap semangat demi impian.
Akhirnya
aku memutuskan untuk lanjut kuliah dibidang Teknik Komputer di perguruan tinggi
swasta di sini. Walau sebenarnya aku ingin ambil jurusan Musik di luar kota,
namun aku tak sanggup untuk berpisah dengan orang-orang yang aku sayangi.
Di
kampus pada saat OSPEK.
“kak’Surya..?”
tanyaku bengong. Karena sebenarnya aku tidak tau sama sekali kalu dia kuliah
ditempatku.
“Marsha?
Kamu kuliah disini? Kakak kira kamu akan ambil jurusan musik? Tanya kak’suurya
bertubi-tubi
“iya
nih,kak. Pengin nambah ilmu aja. Lagian kalau disini juga masih bisa main music
kan? Terangku.
Hari
pertama masuk kuliah membuatku merasa bosan. Bukan karena sekedar teman-temanku
masih asing namun otakku masih memikirka sahabat-sahabatku, Sapta serta Radhyn.
Terakhir aku dengar Sapta akan sekolah management karena ia akan melanjutkan
restoran orangtuanya. Sedangkan Radhyn ia memilih untuk berkerja karena sekarang dia menjadi tulang punggung
keluarganya sejak Ayahnya meninggal.
Dua
bulan berlalu akhirnya aku dapat kabar dari Wina, dia cerita kalau tempat ia
bekerja lagi ada PHK besar-besaran. Hamper setengah pegawainya kena PHK
termasik dirinya. Akhirnya Wina balik keindonesia. Dan aku merekomendasikan dia
untuk bekerja di restonya Orantua Sapta.
Setahun
kemudian, diacara Wisudahnya kak Surya. Dari dulu aku sudah tahu kalau Surya
itu diatas rata-rata, jadi aku nggak heran kalau dia jadi Lukusan terbaik tahun
ini. Didalam sambutan kak’Surya dia menyebut Namaku sebagai orang yang selama
ini memotivasinya. Padahal dalam kenyataanya aku sama sekali tidak berbuat
apa-apa.
Namun
karena sambutannya itu, beberapa minggu aku sepat dijutekin oleh cewek-cewek
seisi kampus. Bahkan ada senior yang hamper melabrakku, tapi untung saja ada
Radhyn yang melihatnya dan menolongku. Yups, sudah dua minggu Radhyn sekolah
disini dan tentu saja dia mengambil bidang Arsitektur. Dan dia sekarang jadi
juniorku [ ha.ha..ha..]
“Dhyn,
thanks yah..” ucapku.
“u’re
welcome. Ada apa sih, kok sadis banget? Tanya Radhyn heran.
“biasalah..
masalah cowok” jawabku singkat.
Beberapa
hari setelahh itu, kak’Surya menjemputku sehabis pulang kuliah. Dia mengajakku
makan, aku sebenar masih heran. Sesampainya di tempat makan aku tanyakan
semuanya yang selama ini ada diotakku. Namun aku belum sempat bertanya dia
sudah mengeluarkan pernyataan yang memuatku kaget.
“Sha,
aku kan sudah mengenalmu lama. Dari kecil sampai sekarang kamu segede ini. Aku
pengin kita bisa lebih dekat. Mau nggak kamu jadi pacar aku?”
“apa,kak?”
tanyaku heran sambil melotot
Setelah
itu aku hanya terdiam. Ditengan diamku ada sosok yang tak asing lagi dimataku.
“Marsha..”
sapa Saptana.
“Sapta..”
ucapku sambil menyodorkan tangan.
Tak
lupa aku kenalkan Sapta ke kak’Surya. Akhirnya bertiga ngobrol panjang lebar,
hingga akhirnya aku tahu kalau tempat ini adalah milik orangtua Sapta. Tanpa
terasa makanan dan minuman di meja sudah habis. Akhirnya aku putuskan untuk
pulang.
“thanks
yah.. buat hidangannya. Nanti pasti aku sering-sering mampir kesini” kataku
pada Saptana.
“siip”
kata Saptana.
Dalam
perjalan pulang aku menjawab pertanyaan kak’Surya yang tadi sempat tertunda
karena Sapta. Dengan tegas aku menolak kak’Surya. Karena untuk sekarang aku
masih fokus sama kuliah ku. Dengan sifat dewasanya kak’Surya akhirnya dia bisa
menerima.
Mungkin
karena aku sudah nyaman denang suasana kuliah hingga akhirnya pada hari ini aku
resmi di wisuda. Hari berjalan begitu cepat, untuk kedua kalinya aku di wisuda.
Namun untuk yang ini terasa begitu istimewa, karena semua orang yang pada
hadir. Dari orang tua, kak’Rezta dan Miya yan sekarang sudah menikah dan
mempunyai seorang anak, ada Fiya, Wina, Putri yang sudah diwisuda minggu lagu,
ada Sapta, Radhyn dan kak’Surya juga datang.
“selamat
yah..” ucap Wina, Fiya, Putri
“selamat
ya, de..” ujar kak’Rezta dan Miya.
Tak
lama kemudian datanglah Andi, dia baru saja pulang dari Jepang. Katanya sih ada
kerjaan disana. Dari kejauhan dia melambaikan tangan. Sesampai didepanku dia
langsung memelukku. Dan memberiku ucapan selamat.
Sekarang
aku menjadi karyawan tetap di disebuah televisi swasta,berkat gelar S1 Teknik
komputerku, sedangkan Putri sekarang diangkat sebagai guru SD, dan Fiya dia
sekarang menjadi membuka sanggar tari. Wina sekarang menjadi Chef di tempatnya
Saptana. kalau Saptana, ia sendiri melanjutkan resto milik keluarganya. Dan
Radhyn, walau dia masih kuliah namun sudah ada perusahaan dalam negeri yang
tiap bulan membutuhkan jasanya.
Berawal
dari musik akhirnya kita bisa menggapai semua impian-impian kita. Impian bukan
Cuma untuk di khayalkan, namun harus diwujudkan. Walaupun banyak rintangan
namun semangat akan membuat kita lebih gigih mengejar impian.
Kadang
apa yang kita impikan tak semuanaya dapat terwujud. Ada kalanya walau kita
sudah berusaha dengan sungguh-sungguh namun impian itu tetap menjauh dari kita.
Dan saat kita jatuh karena impian itu kita harus tetap memperjuangkan impian
kita. Dan endingnya kita harus bisa menerima jika impian itu tak bisa kita
wujudkan. Dan jangan merasa menyesal.