Lighter
Setahun telah ku lalui kehidupan baruku ini, kehidupan dimana aku harus menerima seseorang yang tak aku sukai, dan takdir yang telah berkata kalau Dia skarang adalah Ibuku, tepatnya Dia adalah Ibu tiriku. Kebahagian jarang aku dapatkan setelah kehadirannya dalam kehidupanku. Takdir telah membuatku banyak berubah, dari sifat sampai sikap.
Sikapku yang dulu terbuka, kini menjadi super tertutup apalagi tentang keadaan keluarku. Banyak kebenaran yang aku sembunyikan. Tp, suatu ketika datanglah sebuah sebuah harapan baru dalam hidupku. “Hai…” sapa Zuyenk. “Hai juga” jawabku rada malas. “kenapa kok sedih?” tanyanya. “nggak apa-apa” jawabku singkat. “are yo sure?” tegasanya. “iya begitulah”
Suatu sore Ibu tiriku datang kerumah, dan pertengkaran hebatpun terjadi antara dia dan kakakku. Dan aku hanya bisa menangis didalam kamar. Hingga akhirnya pertengkaran itu reda. Kakakku Vino memutuskan untuk pergi dari rumah. Kakakku dulu juga perna kabur dari rumah, sehari telah Ayahku menikah. Aku pun sebenarnya ingin kabur, tapi apalah daya ku, aku hanya anak kecil tak berdaya atas keegoisan oaring-orang dewasa. Setelah kakakku pergi, tiba-tiba ayahku mengetu pintu kamarku. Tok..tok.. tok.. “Sha, ada teman kamu di depan” panggilnya kepadaku. “iya.. sebentar” jawabku. Aku pun langsung mengusap air mataku dengan tissue yang ku sediakan di atas tempat tidur. Aku keluar dan ternyata Zuyenk yang ada didepan rumahku. “sibuk,nggak?” tanyanya. “kenapa?” tanyaku balik. “pengin ngajak kamu makan bubur ayam, kamu masih suka kan?” ajaknya. “oh, masih. Kebetulan sekali kamu datang, dari tadi siang aku belum makan”. Dan aku pun disuruh naik ke motornya. Aku pun langsung naik, tanpa meminta ijin sama orang tuaku. Dalam perjalan aku Cuma diam saja, karana sebenarnya aku masih keinget pertengkaran tadi. Dan akhirnya, sampailah di Alun-alun kota. Zuyenk memarkir motornya dan aku berusaha menyembunyikan rasa sedihku dan mengeringkan bekaas air mata tadi.
“eheem,, kok diam terus sih? Laper banget yeah?” ajaknya bercanda.
“hehehe… tau aja kamu? Jawabku bohong.
“ya.. udah. Ayoo kita cari buburnya”. Ajaknya sambil menarik tanganku.
Aku kaget, karena tiba-tiba tangan Zuyenk menggandeng tanganku. Aku hanya diam dan senyum dalam hati. Aku merasa senang, akhirnya ada orang yang care sama aku.
Tibalah kita berdua di tempt makkkan kaki lima. Walau Cuma kaki lima tp, rasa bubur ayam disini sangatlah enak. Kita duduk di pojok, karena di situ ada lampion warna ungu, warna favorit aku. Suasanya berubah menjadi lebih romantic ketika matahari mulai terbenam sepenuhnya. “Mas, Neng.. ini buburnya, silahkan makan” ujar abang-abang penjualanya. “iya, bang terimakasih yeah” balas zuyenk. “nih.. makan, katanya laper” ucapnya padaku. “iya.. makasih yeah, Mas” saambutku.
Setelah, beberapa menit akhirnya kita berdua selesai makan. Dan tiba-tida ada dua pengamen yang datang. ”misi mas, misi mbak, misi Tante, Om.. misi semuanya.. saya akan menyanyikan sebual lagu yang berjudul ‘doa untuk ibu dari ungu band’. “wow.. kok ini sh?” (tanyaku dalam hati). Akhirnya pengamen tersebut beranjak pergi. Dan tanpa ku sadar, Zuyenk meembesiku selembar tissue. Tenyata air mataku jatuh.
“kenapa?” tanyanya heran melihatku menangis.
“heemm..!! nggak apa-apa kok, tenang aja” jawabku cepat.
“yakin? Hari ini aku sudah tiga kali melihatmu menangis” ucapnya.
“aku males cerita, kalau aku ceritapun aku akan tambah sedih” jawabku sambil menusap air mataku.
“cerita donk” ucapnya memohon.
Akhirnya aku pun luluh oleh kata-kata dia. Aku ceritakan semua yang aku alami selama ini, tentang keluargaku, kehidupanku dan tekanan batin yang kurasa.
“kenapa baru cerita?” tanyanya.
“emang kenapa? Toh sebenarnya aku tak ingin orang- orang tau, apalagi temen sekelasku”. Jawabku tegas
“hmm… ya sudahlah, jika itu mau kamu”. “tapi, kalau kamu butuh temen curhat, aku siap kok, kan kamu yang bilang, kalau aku ini kamu anggap sebagai kakakmu, iya kan.. Adeku sayang. Senyum donk”. Pintanya.
“iya kakak.. nih Ade senyum..” sambil melihat kematanya.
Sebenarnya aku ingin hubungan aku dengan dia lebih dari kakak dan Ade tapi, dia sudah punya cewek dan aku pun sudah punya cowok, walaupun hubungan aku dengan cowokku sekarang lagi kacau.
Acara makan-maakannyapu selesai, kita pulang. Tapi, dijalan ternyata Zuyenk mengajakku ke Pantai.
“kak, kok kesini sih? Tanyaku.
“udah tenang aja, malam ini akan jadi indah, jika Ade sama Kakak”. guraunya.
“ hmmm… mulai gombalnya” tanggapku.
“he..he..”. dia ketawa.
Akhirnya tiba di pantai, Zuyenk langsung menaruh motor, dan kita berjalan menuju anjungan. Sampai diujung kita duduk.
“kenapa kesini sih,kak? Tanyaku masih heran.
“nih, kakak pinjamin pundak kakak kalau Ade mau nangis silahkan”. Tawarnya.
“nanti, cewek kakak marah lho..?”. Ledekku .
“tenang aja Adeku sayang”. Dia mulai menghiburku.
Malam yang indah ini tak ingin aku lewatkan begitu saja. Aku merasa kalau beban dihatiku selama ini akhirnya bisa kuungkapkan dan tersa lebih ringan. Tapi, jam sudah menunjukan 8 mala, zuyenk mengantaku pulang.
Kriiiing… kriiing.. kriiing… alarmku bunyi.
Aku bangun dengan tersenyum, hal yang selama ini hilang dalam kehidupanku. Aku mempunyai semangat baru dalam hidup ini. Aku kembali menemukan setitik harapan yang harus aku raih. Aku langsung bergegas mandi dan sarapan. Tiba-tiba aku mendengar ada suara motor berhenti dan tak lama kemudian ada ketukan pintu. Aku langsung menuju ke depan ternyata zuyenk yang ada didepan pintu.
“met pagi Ade sayang” sapanya.
“met pagi juga,Kak. Tumben banget pagi-pagi datang, mau numpang sarapan yeah? “. Candaku.
“akh.. Ade bisa aja. Kakak mau jemput Ade nih, berangkat bareng yuk”. Ajaknya
“okeh deh.. tunggu sebentar yeah” pintaku.
“apa sih yang nggak buat Ade”. Katanya.
Akhirnya kita berangkat ke sekolah bersama. Sebenarnya agak ragu, takut banyak gossip. Maklum aja Zuyenk kakak kelas aku yang banyak pnggemarnya. Tapi, ya sudahlah toh nggak ada hubungan lebih.
“stop..!!”. perintahku.
“kenapa , De..?” tanyanya.
“takut ada gossip” jawabku.
“nggak apa-apa “ dia lanjut lagi laju motornya sampai ke parkiran sekolah.
Sesampai si sekolah kita jalan masing-masing menuju kelas. Sebelum tadi ita pisah dia sempat bilang “nanti, pulang bareng yeah, De”. Aku Cuma mengangguk. Sesampai di kelas aku langsung buka handphone, ternyata ada pesan masuk. Dan pesan itu dari Zuyenk.
“De, jangan sedi lagi yeah.. kakak selalu ada kok buat Ade. Jangan nangis juga.. kasihan tuh mata, airnya habis… hehe… semangat yeah Adeku sayank”
Begitulah isi SMS dari Zuyenk. Aku Cuma bisa tersenyum, ebenarnya pengin banget reply tapi bingung, mau bilang apa.
TET... TET... TET…
Bel tanda masu berbunyi, anak yang semula pada asyik didepan kelas,sekarang sudah duduk rapi di bangkunya masing-masing. Ternyata jam pertama sampai ketiga jam kosong karena Pak. Didik guru Bahasa Indonesia, sedang ada urusan keluarga.
“tumben banget berangkat sama Kak Zuyenk” Tanya Ine, teman sebangkuku.
“he..he..” (aku bingung mau jawab apa)
“kok, ketawa sih?” Tanya ine penasaran.
“nggak kok, tadi dia kerumahku nawarin berangkat bareng, ya sudah aku terima saja. Kan pamali nolak rejeki”.jawabku seadanya.
“cie.. cie..”. ledek ine.
Bosen juga kalau di kelas terus akhirnya aku, Ine dan Via memutuskan untuk pergi ke kantin beli minuman. Hal yang tak ku duga datang, Gank Cueniez, yang salah satu anggotanya naksir berat sama Zuyenk mendatangiku. Firasatku tak enak dalam hatiku Cuma bisa menebak-nebak apa yang akan mereka lakukan kepadaku. Maklum saja mereka juga kakak kelas, sedangkan kami hanya junior mereka.
“hei.. ada hubungan apa kamu dengan Zuyenk?”. Tanya Firsya. Cewek yqng salama tiga tahun ini selalu ngejar-ngejar Zuyenk.
“ng.. nggak ada apa-apa,kak”. Jawabku terbata-bata
“awas yeah..!!”. ancam Firsya.
“(cewek aneh, bisanya ngancem doing)” gerutuku dalam hati.
Dan gank tersebut akhirnya pergi. Sedang asyik-asyik ngobrol terdengan pengumuman kalau hari sekolah pulang cepat, karena ada rapat Guru tentang US & UN. Anak-anak pun pada pulang. Begitu juga dengan Ine dan Via. Sekarang Aku di Kantin sendiri. HP bergetar, ternyata Zuyenk SMS lagi, dia nyuruh aku nunggu di lapangan basket karena dia lagi main sama teman-temannya.
“ade…!!” sapa Zuyenk padaku
“cie.. cie.. kok Ade-adean sih?”. Tanya Andre, temen satu kelasnya Zuyenk yang tak sengaja mendengar ucapan Zuyenk.
“apaan sih kamu? Rese deh” tegas Zuyenk.
“inget.. Vrisky..!!”. ledeknya Andre lagi.
“iya.. iya.. bawel banget jadi cowok”. Balik ngedek
Aku lagi-lagi hanya bisa diem, dari pada nanti malah tambah panjang urusanya. Akhirnya kita pulang. Dan Zuyenk menawari hangout.
“mau langsung pulang apa mau jalan-jalan lagi?” tanyanya.
“hmmm…(sambil mikir), terserah kakak aja deh, hari ini Ade milik kakak sepenuhnya”. Jawabku.
“ya udah.. ke took buku yuk, yg ingin kakak beli”. Ajaknya
“boleh, sapa takut”. Tantangku.
Akhirnya sampailah disebuh Mall, kita langsung masuk di sector toko buku. Zuyenk pun langsung mencari buku yang dia butuhkan. Setelah dia dapat buku yang di butuhkan, kita lanjut ke caffe. Tanpa aku sadar ternyata dari tadi Zuyenk menatap ku. Aku pun meberanikan diri untuk menatapnya, sehingga kini kita saling tatap. Seperti ada yang mau diucapakan namun ragu. Mungkin karena terbawa suasana zuyenk menggenggam tanganku, aku juga hanya bisa merelakan tanganku di genggam dia.
Tiba-tiba HPku berbunyi ada panggilan masuk, dan ternyata dari Alva, cowokku yang sekarang ada diluar kota. Aku melepaskan tanganku dan segera menjawab panggilan itu.
“ay.. lagi apa?” Tanya Alva
“lagi makan, yank”. Jawabku
“sama siapa?” tanyanya lagi.
“sama Kak Zuyenk”. Jawabku
“siapa tuh?” tanyanya agak ketus.
“kakak yank” jawabku.
“oh.. ya sudah lanjutin donk makannya, maaf yah Ay,, ganggu” katanya.
“nggak apa-apa.. kamu juga jangan lupa makan yeah Yank”. Ujarku
“love you, mmuuaach”. Langsung mati.
Kuliat raut muka Zuyenk, yang sekarang berubah tak seperti waktu tadi, saat kita saling tatap. Mungkin dia BT gara-gara tadi aku terima telpon. Setelak kita menghabiskan makan kita beranjak pulang. Ditengan jalan dia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut. “De, peluk kakak donk, nanti jatu lho”, aku tak menjawab tapi aku langsung melalukan apa yang dia suruh. Aku memeluknya. Lalu dia berkata lagi “nah gitu donk, kan enak.. jadi nggak tajuh”. Dan aku tersenyum.
Setengah jam perjalan, akhirnya aku sampai didepan rumahku. Aku turun dari motor dan Zuyenk pun menarik tanganku kini kita berada dalam jarak yang sangat dekat. Tanpa aku sadar kecupan mendarat di keningku. Dia pun berbisik.. “De.. kakak sayang Ade”. Aku menjawab “ade juga sayang sama kakak, makasih yeah kak.. udah buat hari-hari bahagia.” “sama-sama ade”.balasnya.
Dua minggu berlalu, setelah US (ujian sekolah) akhirnya kita kelas 1 dan 2 mulai berangkat lagi. Untuk pertama kalinya ketika aku bangun ku lihat sosok ibu tiriku, sedang membersihkan halaman depan. Seperti sikapku biasa, aku cuekin dia.
“pagi, sha..”sambutnya.
“(apaan sih.. sok deket banget)” dalam hatiku.
“jangan lupa sarapan”. Engingatkanku
“iya” jawabku singkat
Sudah jam setengah tujuh, aku siap-siap untuk berangkat sekolah. Biasa jalan kaki, karena jarak rumah ke sekolah paling 10 menit. Tapi ditengah jalan aku bertemu dengan Zuyenk, dia menghentikan laju motornya dan menyuruhku naik.
“peluk lagi donk,De.. hehe..”pintanya
“ogah.. nanti Ade di kroyok sama kak Firsya, penggemarnya kakak”. Jawabku tegas.
“hehe… emang kemarin diapain, de?”. Tanyanya.
“biasalah.. cewek sinting” jawabku lagi.
Sebenarnya aku pingin banget Tanya tentang Vrisky, ceweknya Zuyenk, soalnya akhir-akhir ini dia jarang banget cerita-cerita tentang ceweknya itu. Tapi aku tak ada keberanian untuk menanyakan.
“belajar yang rajin yeah,De..” ujarnya
“iya kakakku” sambil ku senyum.
Seperti biasa kita jalan ke kelas masing-masing. Didepa kelas sudah ada Via dan Ine yang ternyata telah menungguku. Mereka memberiku selembar brosur yang isinya adalah pemberitahuan kalau akan diadaka PENSI sekitar dua bulan lagi. Dan barang siapa yang ingin memeriahkan acara tersebut diharap untuk menghubungi panita penyelenggara.
“nih..”. kata Via sambil memberiku selembaran itu.
“apaan ini?” tanyaku.
“baca saja sendiri”perintah Ine
Aku pun membacanya. Dan sepertinya aku yakin kalau mereka menyuruhku untuk ikutan ini. Pas banget dugaanku.
“ikutan aja, ayolah.” Bujuk Ine padaku.
“males akh” jawabku.
“ikut saja, kamu kan punya bakat nyanyi sama main music” kata Ine
“iya, Sha.. daripada nanti Cuma ada dance-dance.. kan bosen juga yang nonton” rayu Via.
“iya, Sha” bujuk Ine
“hmmm… iya deh akau ikutan. Tapi, nanati kalian temenin aku ke panitianya yeah.” Kataku.
“okeh deh..” kata Ine dan Via bebaraengan.
Hari ini ada ulangan kesenian, pelajaran yang paling bikin asyik menurutku. Yaa mungkin karena pada dasarnya aku suka banget sama seni. Maklum aja, Ayahku jago banget menggamar, Omku juga nggak kalah jago. Dan kakekku juga suka banget musik, aku sering di ajarin music sama Dia.
Seminggu setelah pengumuman PENSI akhiran aku atang ke tempat panitia untuk bergabung sebagai pengisi.
“hai.. Sha” sapa seorang panitia penyelenggara yang ternyata adalah temen facebookku. Walau aku sudah tau kalau dia sekolah disini, namun aku tak penah sekalipun minta ketemuan sama di.
“hai.. juga, akhirnya bisa ketemu juga” kataku.
“aku sih sudah pernah lihat kamu, tapi aku malu aja mau nyamperin” jawabnya.
“kapan?” tanyaku
“ tiga minggu lalu kayanya, waktu kamu sama Zuyenk” jawabnya
“kok kenal sama Zuyenk? Tanyaku lagi
“dia kan temen sekelas ku juga, oh iya.. mau perform apa di PENSI biar aku catat” katanya.
“nyanyi sambil main musik” sambungku.
“oh iy, kamu kan juara 1 lomba nyanyi sesekolah waktu SD..” pujinya.
“akh.. kamu bisa aja.. udah dulu yeah mau masuk kelas” tanggapku.
Aku berfikir, ketika PENSI itu terlaksana berarti aku akan pisah sama Zuyenk, karena Zuyenk harus kuliah diluar kota. Aku merasa sedih jika kita harus jauh-jauhan. Ketika aku sedang membayangkan itu ternyata Zuyenk datang mendatangi aku.
“Ade.. kenapa?”. Tegur Zuyenk
“biasa aja kok,ka” jawabku
“ya sudah.. gini lho, besok kan Kakak sudah mulai Ujian Negara, kakak mau minta do’a restu dari ade, biar kakaksukses”. Katanya
“pasti, pasti Ka… pasti ade do’ain.. tp..”. jawabku.
“tapi kenapa ade?” tanyanya.
“nggak lama lagi kita akan pisah,ka.. kakak kan mau lanjut kuliah?”jawabku agak sedih.
“nggak apa-apa ade, nanti kakak sering-sering pulang deh..”ucapnya.
Acara yang ditungu-tunggu oleh para anak-anak akhirnya tiba, para pengisi acara dan tamu undangan sudah duduk di tempat yang telah disediakan. Para performing pun pada menghibur diacara itu. Tibalah sekarang giliranku. Aku naik keatas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar